Publikasi » Detail

“SWASEMBADA BERAS BANGKA SELATAN DAN LUMBUNG PANGAN UTAMA BANGKA BELITUNG”

Detail Publikasi

“SWASEMBADA BERAS BANGKA SELATAN DAN LUMBUNG PANGAN UTAMA BANGKA BELITUNG”

Artikel Oleh : Yuri Siswanto, S.ST

Sekretaris Bappelitbangda Kab. Bangka Selatan

(Dalam Rangka Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2021)

http://pelikasnews.id/2021/10/17/swasembada-beras-bangka-selatan-dan-lumbung-pangan-utama-bangka-belitung/

 

Bangka Selatan, Lumbung Pangan Utama Provinsi dan Berstatus Swasembada Beras

Beras merupakan kebutuhan pokok konsumsi utama bagi hampir seluruh penduduk Indonesia, tak terkecuali di Bangka Belitung. Bahkan mengingat strategisnya komoditas ini, tak heran jika kebijakan pengelolaan beras berada dalam intervensi penuh pemerintah. Bangka Belitung yang berkarakteristik geografis wilayah kepulauan, menjadikan pengelolaan beras sebagai tantangan tersendiri.  Manajemen pasokan, harga dan rantai distribusi merupakan faktor utama yang harus diperhatikan. Tak kalah penting, optimalisasi lahan juga membutuhkan strategi yang jitu sehingga struktur dan perkembangan perekonomian wilayah tetap stabil. Ini semua mengharuskan kebijakan optimalisasi lahan harus dilakukan dengan all out dan mendapat tempat prioritas utama pembangunan oleh pemerintah di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.

Badan Pusat Statistik dalam Publikasi Bangka Belitung Dalam Angka 2021 merilis Bangka Selatan merupakan daerah pemilik lahan pertanian sawah terluas di wilayah Bangka Belitung. Begitu pula dengan produksinya. Tercatat luasan panen sawah Bangka Selatan sebesar 13.120 ha dengan produksi padi sebesar 49.620 Ton. Jumlah tersebut jika dikonversikan akan setara 29.260 Ton volume beras. Produksi tersebut tentu saja terbilang tinggi apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan penduduk setingkat kabupaten/kota.

Bangka Selatan sendiri saat ini memiliki penduduk sejumlah 198.189 jiwa. Jika diasumsikan konsumsi beras per kapita per hari sebesar 307 gram, maka kebutuhan beras penduduk per tahun diperkirakan mencapai 22.208 Ton. Mengacu pada perbandingan produksi dan kebutuhan beras penduduk diatas, terdapat selisih surplus produksi sebesar 7.052 Ton. Angka tersebut menyaratkan bahwa Bangka Selatan bukan saja sudah mampu memenuhi kebutuhan beras penduduknya, namun juga sudah mampu menanggung sekitar 63 ribu orang penduduk di luar daerah. Ini juga menggambarkan bahwa Bangka Selatan sudah mencapai swasembada beras sekaligus menjadi satu-satunya daerah di wilayah Bangka Belitung.

Pertanian Pangan Sebagai Lokomotif Pembangunan Ekonomi Sekaligus Penyelamat Disaat Pandemi Covid-19

Nilai aktifitas produksi komoditas pangan utama, termasuk beras, dalam struktur ekonomi terkategori masuk ke dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Oleh karena itu, produksi komoditas beras dapat diindikasikan dalam perkembangan pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Seirama dengan kondisi diatas, gambaran perkembangan sektor ini juga menggembirakan. Masih bersumber pada publikasi diatas, ternyata pertanian, kehutanan dan perikanan Bangka Selatan justru perkasa disaat masa pandemi covid-19 saat ini. Laju pertumbuhannya bahkan mampu melesat ke angka 9,43% disaat ekonomi daerah terperosok ke angka -1,99 %. Bukan hanya itu, bahkan laju pertumbuhannya pun tercatat tertinggi dalam kurun waktu delapan tahun terakhir. Fenomena tersebut semakin menguatkan kesimpulan bahwa pertanian pangan telah menjadi lokomotif ekonomi Bangka Selatan sekaligus penyelamat ekonomi masyarakat terhadap dampak pandemic covid-19.

Strategi dan program pembangunan kedepan

Berbekal potensi pengembangan yang prospektif, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan semakin menggencarkan pembangunan sektor-sektor pangan. Berbagai program dan kebijakan terus dilakukan antara lain pembangunan infrastruktur pertanian, penguatan sumber daya manusia dan penguatan anggaran pembangunan. Komitmen ini dibuktikan dengan penguatan kucuran total anggaran dana alokasi khusus (DAK) bidang pertanian, perikanan dan pangan yang meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2022. Selain itu, pemerintah pusat juga telah menetapkan Bangka Selatan sebagai salah satu daerah dengan tematik pengembangan food estate dan ketahanan pangan di Indonesia. Ini merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap keseriusan dan komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan untuk mengembangkan komoditas pangan, utamanya beras.

Gerakan ASN Wajib Beli Produk Beras Lokal Pertama Di Bangka Belitung.

Meski kesejahteraan petani sawah di Bangka Selatan sudah dalam dalam kondisi yang relatif baik, namun upaya kontinu untuk terus meningkatkan pendapatan usaha pertanian sawah terus digenjot oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Hal itu antara lain dengan memperluas akses pasar, khususnya konsumen pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Dengan potensi konsumen lebih dari sepuluh ribu orang, diharapkan produksi beras lokal Bangka Selatan mampu terserap maksimal. Hal ini lah yang kemudian menjadi dasar kebijakan Gerakan Wajib Konsumsi Beras Lokal (Gerubak Pradik). Disaat daerah lain baru sebatas memberikan himbauan, Bupati Bangka Selatan melalui Peraturan Bupati Nomor 14 Tahun 2021 dengan tegas mewajibkan agar seluruh pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dapat mengkonsumsi beras lokal. Penggunaan beras lokal juga diwajibkan untuk acara resmi pemerintah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Kebijakan ini menjadikan Bupati Bangka Selatan tercatat sebagai kepala daerah pertama di Bangka Belitung yang berani mewajibkan konsumsi beras lokal.

Untuk terus mengembangkan program ini, sasaran konsumen tidak dibatasi hanya pada pegawai saja namun akan terus diperluas pada seluruh aparatur pemerintah desa se-Bangka Selatan. Penguatan regulasi juga akan terus didorong sehingga mampu diimplemntasikan kepada masyarakat dan dunia usaha di wilayah Bangka Selatan. Melalui mekanisme yang efektif, diharapkan program ini akan akan secara konsisten meningkatkan pendapatan petani sawah yang ada di Kabupaten Bangka Selatan.

Secara umum, tantangan pengembangan dan pembangunan pertanian pangan di Bangka Selatan masih menyisakan berbagai catatan. Penyediaan infrastruktur irigasi yang memadai, pengendalian hama dan organisme pengganggu tanaman, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani merupakan isu yang terus dicermati. Oleh karena itu, keterlibatan dan kontribusi semua stakeholder akan menjadi kunci dalam keberhasilan mewujudkan pembangunan pangan daerah. Tidak saja hanya pada pemerintah, tetapi masyarakat dan dunia usaha. Jika semua pemangku kepentingan berkontribusi secara optimal, bukan tidak mungkin dimasa mendatang Bangka Selatan menjadi daerah maju karena unggulan komoditas pangan nya.

Bagikan:

Publikasi Lainnya: